Perbedaan Kohesi dan Koherensi Bahasa

3.5/5 - (10 votes)

Kohesi dan Koherensi tidak asing lagi sebagai dua unsur yang sangat penting dalam membuat sebuah wacana, baik lisan maupun tulisan. Terutama dalam teori pelajaran bahasa, kohesi dan koherensi sering dibahas secara bersamaan meskipun memiliki pengertian yang berbeda.

 

Oleh sebab itu, tak jarang kohesi dan koherensi sering dianggap sama dan juga dianggap cukup sulit untuk dipahami bagi pembelajar bahasa.

Sebelum mengulas tentang perbedaan kohesi dan koherensi, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa dalam menyusun sebuah wacana sebagai satuan bahasa yang paling lengkap, diperlukan dua unsur penting didalamnya agar maksud dari wacana tersebut mampu tersampaikan dengan baik bagi pembaca/pendengarnya. Kedua unsur tersebut adalah kohesi dan koherensi.

1. Kohesi

Seperti kita ketahui, sebuah wacana selalu terikat pada konteks yang mampu membuat wacana tersebut dapat dipahami, sesuai maksud penulisnya.

Haliday dan Hasan (1976) menyebutkan bahwa terdapat keadaan unsur-unsur bahasa yang menciptakan suatu wacana, yang salah berkaitan secara sistematis. Keadaan unsur-unsur bahasa yang dimaksud adalah kohesi.

Secara sederhana, kohesi dalam wacana merupakan kepaduan bentuk secara struktural yang membentuk ikatan sintaktikal. Kohesi menjadikan sebuah wacana menjadi utuh, dengan pembentuk wacana yang saling mengikat.

Terdapat dua jenis kohesi, yaitu

  • Kohesi Gramatikal yaitu kohesi yang berupa referensi atau pengacuan, subtitusi atau penyulihan, elipsis atau pelesapan dan konjugasi atau penghubungan. Semua unsur tersebut dapat menciptakan hubungan semantis atara satu dengan lainnya dalam kaitannya dengan tata bahasa (gramatikal)
  • Kohesi Leksikal yaitu adanya hubungan leksikal antara bagian dalam wacana agar tercipta keserasian struktur yang kohesif. Kohesi leksikal berupa repetisi atau pengulangan, sinonim atau padanan kata, hiponim atau makna spesifik dari makna yang lebih generik, metonim atau majas dan antonim atau lawan kata.

Untuk memudahkan kita mendeteksi kohesi, berikut adalah contohnya.

Seorang mahasiswa berhasil menjuarai pertandingan debat bahasa Inggris tingkat nasional. Ia pun sangat senang atas prestasi tersebut.

Dalam kalimat kedua di atas, “Seorang mahasiswa” digantikan oleh kata “Ia” dan “menjuarai pertandingan debat bahasa Inggris tingkat nasional” digantikan oleh kata “prestasi tersebut”. Karena unsur-unsur inilah, kedua kalimat tersebut dapat disebut kohesif.

2. Koherensi

Jika kohesi dalam wacana membentuk ikatan sintaktikal, maka koherensi dalam wacana sebenarnya mengandung hubungan semantis yang terjadi antarproposisi.

Secara struktural, hubungan tersebut dibentuk oleh pertalian antar kalimat yang satu dengan kalimat lainnya secara semantis. Kaitannya dengan kohesi, koherensi adalah kepaduan gagasan antarbagian dalam sebuah wacana, dimana kohesi adalah salah satu cara membentuk koherensi.

Koherensi juga erat kaitannya dengan faktor diluar teks yang mampu menjadikan sebuah struktur wacana yang serasi, runtut dan logis. Serasi dalam hal ini berarti adanya hubungan antarproposisi yang membentuk makna secara logis.

Beberapa unsur pembentuk koherensi adalah hubungan sebab akibat, akibat sebab, sarana hasil, sarana tujuan, alasan tindakan, dan lain sebagainya.

Salah satu contoh koherensi dalam kalimat adalah sebagai berikut.

Akhir-akhir ini Andi belajar lebih giat. Ia bertekad lulus ujian masuk perguruaan tinggi impiannya.

Kalimat diatas menunjukkan hubungan sarana-tujuan, yaitu Andi yang akhir-akhir ini belajar lebih giat karena sebuah tujuan, yaitu agar lulus ujian masuk perguruan tinggi impiannya.

Kohesi maupun koherensi merupakan dua unsur penting yang perlu diperhatikan penulis dalam membentuk sebuah wacana yang utuh, logis dan mampu dipahami oleh pembaca atau pendengarnya, sesuai maksud yang ingin disampaikan.