Menemukan Informasi yang Dapat Dikembangkan Menjadi Karya Ilmiah

Posted on

Perhatikanlah cuplikan berikut!

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya sastra klasik merupakan karya sastra kultur dan etnik (daerah). Bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara sangatlah beruntung karena memiliki khazanah sastra klasik yang amat beragam dan kaya. Wilayah-wilayah kultur dan etnik itu masing-masing memiliki sastra kasik, yang semuanya memiliki sifat-sifat yang khas. Karya sastra ini timbul dan berkembang pada zaman yang belum mengenal istilah demokrasi, HAM, industrialisasi, globalisasi, dan anasir-anasir modern lainnya. Sastra klasik sebagian besar berakar dari sikap hidup tradisional yang feodal. Hal yang wajar apabila kemudian muncul pertanyaan, nilai apa lagi yang masih dianggap relevan dan bermanfaat dari penelitian sastra klasik dalam konteks kehidupan yang serba modern seperti sekarang.

Dalam karya-karya klasik memang terkandung pemikiran-pemikiran yang dekaden, penuh tahayul, dan menidurkan. Hal itu sulit dimungkiri. Cerita-cerita masa lampau mengandung banyak unsur yang tidak relevan lagi dengan napas modernisme maupun semangat demokratisasi. Karya dan kehidupan klasik (tradisional) sulit dipisahkan dari unsur feodalis dan mistisme. Namun demikian, hal lain yang tidak boleh terlupakan pula bahwa sastra klasik adalah catatan hidup dan kehidupan manusia masa lampau; sebagai bagian dari karya-karya kemanusiaan; itu artinya, karyakarya klasik pun tidak mungkin lepas dari nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Ujar Syariati (1994) bahwa masa lampau dan masa kini merupakan sebuah jurang. Antara keduanya memerlukan sebuah jembatan. Pertemuan antara keduanya sangatlah penting untuk membangun satu bentuk konvergensi kultural yang berkepribadian, tanpa harus kehilangan identitas dan esensi kebangsaannya. Penggalian terhadap sastra klasik diharapkan dapat memperoleh nilai pengalaman, perasaan, dan pemikiran esensial kemasyarakatan. Pemerolehan akan nilai-nilai tersebut, menurut Syariati (1994) sangat bermanfaat untuk menambah kearifan dan kebijakan hidup, baik di masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.

Penggalian-penggalian terhadap hal-hal di atas telah banyak dilakukan para filolog maupun ahli-ahli dari disiplin ilmu lainnya (antropolog, sosiolog, dan sebagainya). Hasilnya mereka mengakui bahwa karyakarya sastra klasik ternyata sarat nilai. Dalam karya-karya klasik banyak terkandung pesan-pesan moral, didaktis, dan adat istiadat (Djamaris, 1990;Fang, 1991; Danawidjaja, 1994). Temuan-temuan tersebut tentunya bukan sesuatu yang final. Yang selama ini dilakukan umumnya masih terpisah-pisah, hanya berfokus pada karya sastra itu sendiri. Jenis sastra Melayu Islam merupakan karya klasik yang belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Padahal karya-karya ini lebih dominan dalam khazanah perkembangan sastra Nusantara. Penulis menemukan kajian-kajian terhadap masalah ini baru sampai pada sajian-sajian makalah. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa kajian yang lebih mendalam terhadap masalah ini amatlah penting untuk dilakukan.

PELAJARI:  Struktur Dan Unsur Intrinsik Teks Cerita Fiksi Dalam Novel

Fokus dan Kerangka Teori
Di atas telah dikemukakan bahwa sastra klasik merupakan salah satu sumber kultural yang sangat penting. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Di samping itu, memang diakui bahwa dalam karya-karya klasik dijumpai pula unsur-unsur kehidupan tradisional yang dekaden, mistisme, yang tidak relevan dengan suasana modern dan semangat demokratisasi. Sastra klasik adalah fenomena multidimensional. Terliput di dalamnya persoalan-persoalan struktur, sejarah, dan kultur. Oleh sebab itu, untuk sampai pada pengertian yang sesungguhnya, penulis membatasinya pada persoalan kultur, dalam spesifikasi pandangan (nilainilai) moral.

Yang termasuk ke dalam karya klasik itu sendiri jumlahnya sangat banyak dan beragam. Dalam kaitannya dengan struktur kesejarahannya, dikenal adanya sastra klasik Hindu, sastra klasik Buddha, sastra klasik zaman peralihan, sastra klasik Islam. Karya sastra klasik yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi hanya pada sastra klasik dengan struktur Melayu dalam latar belakang keislaman. Pembatasan ini berdasarkan alasan bahwa sastra klasik masyarakat Melayu Islam merupakan khazanah sastra paling dominan di Nusantara (Djamaris, 1990: Fang, 1991).

Penelitian di atas memerlukan dukungan dari teori-teori sastra, teori moral, dan antropologi. Teori sastra diperlukan untuk mengkaji ciri-ciri sastra klasik dari masyarakat Melayu Islam, khususnya dikaitkan dengan konteks moral yang ada di dalamnya. Teori moral digunakan untuk mengidentifikasi konsep-konsep moral yang (mungkin) ditemukan dalam karya sastra melayu Islam itu, sedangkan teori antropologi diperlukan guna menganalisis struktur sosial budaya masyarakat Melayu Islam, dalam kaitannya dengan sistem moral yang tertuang dalam karya sastra yang diciptakan.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan struktur sastra Melayu Islam, yang meliputi alur, tokoh, latar, dan tema.
2. Mendeskripsikan kategori-kategori moral yang tertuang dalam karya sastra Melayu Islam.
3. Merumuskan karakteristik umum dari setiap kategori moral yang terdapat dalam masyarakat Melayu Islam.

PELAJARI:  Mengembangkan Pendapat Dalam Eksposisi

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Sastra
Penjelasan tentang “Apa itu sastra?”, dapat dikemukakan berdasarkan berbagai sudut pandang. Dalam kajian ini, penjelasan akan dikemukakan seperlunya, sesuai dengan tujuan untuk memahami kedudukan sastra dalam kaitannya dengan ajaran keislaman. Dalam memahami hakikat sastra, paling tidak ada dua pandangan yang selama ini berkembang. Pertama, pandangan Platonis, yang beranggapan bahwa karena sifatnya tiruan, maka sastra itu kurang bernilai dibandingkan dengan kenyataannya itu sendiri. Lebih dari itu, menurut Plato bahwa para seniman hanyalah menonjolkan sifat-sifat rendahan manusia, yang emosional, tidak pada segi rasionalitas, yang dianggapnya sebagai unsur kemanusiaan yang paling mulia dan luhur.

Sehubungan dengan keberatan-keberatan dari Plato, Aristoteles menanggapinya sebagai berikut. Bahwa sastrawan tidak seperti apa yang dikatakan Plato, yang begitu saja menirukan atau menyajikan kembali peristiwa atau keadaan tertentu yang kebetulan dicatat atau diselidikinya. Namun, ia mengolahnya sedemikian rupa sehingga ia menampilkan unsur-unsurnya yang umum, di samping yang khas. Apa yang merupakan ciri khas dalam sastra, adalah sifat rekaannya yang sangat erat dengan bahasa. Dalam karya sastra, setiap kata, setiap tanda, betapa pun tampak remehnya tanda itu, misalnya titik dan koma, tetapi ia memiliki fungsi dan makna tersendiri; tanda-tanda itu tidak ada yang tidak terpakai, semuanya berfungsi sebagai penyandang bermakna.

Teks seperti itulah yang lazim disebut dengan karya ilmiah. Teks tersebut disusun dengan metode ilmiah, yakni metode yang berdasarkan cara berpikir yang sistematis dan logis. Karya ilmiah menyajikan masalah-masalah yang objektif dan faktual.

  1. Sistematis, susunan teks itu teratur dengan pola yang baku. Dimulai dengan pendahuluan, diikuti dengan pembahasan, dan diakhiri dengan simpulan.
  2. Logis, isinya dapat dipahami dan dibenarkan oleh akal sehat; antara lain, didasari oleh hubungan sebab akibat.
  3. Objektif (impersonal), pernyataan-pernyataannya didasarkan pandangan umum; tidak didasari pandangan pribadi penulisnya semata.
  4. Faktual, kebenaran di dalamnya didasarkan kenyataan yang sesungguhnya; tidak imajinatif.

Karya ilmiah mengutamakan aspek rasionalitas dalam pembahasannya. Objektivitas dan kelengkapan data merupakan hal lain yang sangat penting. Guna membuktikan bahwa pembahasan itu merupakan sesuatu yang rasional, penulis perlu data yang lengkap dengan tingkat kebenaran yang tidak terbantahkan. Untuk memperkuat pernyataan “sastra klasik itu sarat dengan nilai-nilai moral”, penulis perlu membuktikannya dengan data langsung dari karyanya itu sendiri dengan didukung pula oleh pandanganpandangan teori ataupun ahli lain.

PELAJARI:  Menelaah dan Merevisi Teks Tanggapan Kritis

Karya ilmiah tidak selalu identik dengan karya hasil penelitian. Karya hasil penelitian merupakan salah satu jenis dari karya ilmiah. Apabila merujuk pada pengertian dan ciri-ciri di atas, akan banyak sekali ragam tulisan yang berkategori karya ilmiah. Contoh karya ilmiah dapat berupa artikel, makalah, laporan, skripsi, dan tulisan-tulisan sejenis lainnya.

Tugas

Setelah kamu membaca penggalan karya ilmiah di atas, ikutilah instruksi di bawah ini!

  1. Lakukanlah observasi di lingkungan sekolah atau masyarakat tentang informasi yang dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah!
  2. Perhatikan penulisan struktur karya ilmiah yang benar!

Contoh Jawaban

Pada jawaban ini, peserta didik melakukan observasi di lingkungan sekolah atau lingkungan sekitar di tempat tinggal, misalnya observasi tentang permasalahan kebersihan lingkungan, budaya membaca di masyarakat atau sekolah, peran perpustakaan keliling dalam meningkatkan minat baca masyarakat, dan sebagainya. Selain itu, cermati dengan benar struktur penulisannya.

Laporan Hasil Pengamatan

1. Hal yang diamati : Sampah Menumpuk Di Kebun
2. Tujuan : Untuk Mengetahui Seberapa Kotornya Kebun
3. Waktu Pengamatan : Senin ,31 Agustus 2017
4. Tempat : Kebun Belakang Rumah
5. Alat dan Bahan : Alat Tulis, Kamera HP
6. Hasil Pengamatan :

Kebun di belakang rumah mengalami polusi tanah karena banyaknya sampah yang dibuang sembarangan di kebun tanpa daur ulang.
Ada sampah organik yang masih dapat membusuk, seperti sampah sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya.
Ada juga sampah anorganik yang tidak dapat hancur di tanah, seperti sampah plastik, kayu, kaca, kaleng, dan sebagainya.Sampah di kebun sangat mengganggu pemandangan dan menebarkan bau tidak enak.

7. Simpulan :
Sebaiknya membuang sampah pada tempatnya dan di daur ulang agar tidak mengotori lingkungan. Untuk sampah organik bisa dijadikan pupuk, dan sampah yang anorganik bisa ditimbun tanah atau dibakar.