Gerak Tari Mappadendang

2.8/5 - (12 votes)

Keyakinan masyarakat Sul-Sel pada masa lampau bergantung pada alam gaib atau alam tak nyata. Karena itu, tari merupakan alat untuk menyampaikan sesuatu yang diinginkan. Persembahan seperti ini hampir sama dengan kehidupan manusia di abad primitif bahwa pernyataan gerak adalah lambang komunikasi pada sesamanya atau dewa atau batara.

 

Mappadendang berasal dari kata dendang yang berarti irama atau alunan bunyi. Permainan ini lebih dikembangkan lagi di mana alunan irama lebih teratur disertai dengan variasi bunyi dan gerakan bahkan disertai dengan tarian. Mappadendang terdiri atas instrumen lesung (Palungeng lampe) dan antan (Alu).

Alu adalah alat penumbuk padi yang berukuran panjang sekitar 150 cm dengan garis tengah sekitar 20-25 cm. Mannampu (menumbuk) adalah hasil suara pukulan yang bergantian atau saling bertautan satu dengan yang lain pada saat proses menumbuk padi.

Pengertian Mappadendang

Mappadendang adalah salah satu acara yang merupakan rangkaian kegiatan di dalam tudang sipulung. Acara tudang sipulung adalah yang dibuat dalam rangkaian pesta panen rakyat atau masyarakat suku bugis.

Tarian ini menggambarkan tentang rasa syukur masyarakat Bugis Makassar kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas kehendak-Nya mereka bisa menikmati hasil jerih payahnya.

Sebagai ungkapan rasa syukur dan penuh kegembiraan, maka masyarakat menari dengan bahagia. Tarian ini di lakukan dengan mengelilingi lesung sambil memegang alu.

Nilai Budaya dan Karakter Bangsa dalam Tradisi Mappadendang

Acara ini menjadi ajang hiburan bagi para tamu yang hadir, karena di dalam mappadendang mempertunjukkan aksi menumbuk padi secara gotong royong. Selain sangat menghibur bagi hadirin juga menunjukkan suatu pernyataan sikap dan kebersamaan para petani bugis dalam hal ini selalu bergotong royong.

Setelah melaksanakan panen raya masyrakat melakukan ritual adat sebagai rasa syukur kepada maha pencipta yang telah memberikan hasil panen yang melimpah sekaligus juga sebagai penghargaan bagi para petani yang telah bekerja keras mengelolah usaha taninya, yakni dengan ditunjukkan hasil panen yang bagus. Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa konsep yang diusung didalam mappadendang ini adalah semangat gotong royong petani untuk menghasilkan beras yang siap untuk di masak.

Konsentrasi dan kedisiplinan diperlukan didalamnya agar tidak membuat kesalahan yang dapat berakibat fatal, baik itu irama musik bahkan bisa membuat tangan-tangan wanita yang memasukkan padi tertumbuk oleh alu (alat penumbuk padi).

Kegiatan yang Dilakukan dalam Mappadendang

Mappadendang biasanya dilakukan sebelum acara tudang sipulung, pelaksanaanya melibatkan beberapa petani baik itu pria maupun wanita, semuanya bergerak menumbuk padi disertai gerak tarian Padendang Bugis. Wanita bertugas untuk memasukkan padi ke dalam palungeng (tempat menumbuk) sedangkan kaum pria bertugas untuk menumbuknya menggunakan alu (alat penumbuk padi). Alunan tumbukan yang seragam menghasilkan irama yang enak di dengar dan tentunya menghibur.

Tudang Sipulung

Acara tudang sipulung adalah yang dibuat dalam rangkaian pesta panen rakyat atau masyarakat suku bugis. Setelah melaksanakan panen raya masyarakat melakukan ritual adat sebagai rasa syukur kepada maha pencipta yang telah memberikan hasil panen yang melimpah sekaligus juga sebagai penghargaan bagi para petani yang telah bekerja keras mengelola usaha taninya, yakni dengan ditunjukkan hasil panen yang bagus.

Pelaksanaan tudang sipulung biasanya dilakukan dalam suatu areal terbuka atau lapangan atau biasa juga dilakukan di kolong rumah (panggung) pemuka adat atau kepala pemerintahan setempat. Peserta yang hadir biasanya dari seluruh petani dan keluarga tani kampung atau daerah setempat, semuanya berkumpul untuk memeriahkan acara. Mereka berbondong-bondong bersama para keluarganya, dengan membawa seluruh anak-anak mereka.

Selain untuk tujuan pesta, pelaksanaan tudang sipulung juga dimanfaatkan oleh para aparat setempat untuk mengadakan pembinaan petani dalam hal ini melaksanakan kegiatan penyuluhan. Di dalam materi yang disampaikan pada menyangkut seluruh kegiatan usaha tani, misalnya masalah-masalah yang dialami petani selama masa bertanam sampai panen serta bagaimana pemecahan masalah petani tersebut. Dengan adanya penyuluhan itu diharapkan hasil panen musim tanam berikutnya dapat meningkat atau paling tidak dapat dipertahankan.

Pakaian dan Alat yang Digunakan

Pakaian yang dikenakan pada saat Mappadendang, Pada saat acara Mappadendang dimulai penari dan pemain yang akan tampil biasanya mengenakan pakaian adat yang telah ditentukan :

  1. Bagi wanita diwajibkan untuk memakai baju bodoh
  2. Laki-laki memakai lilit kepala serta berbaju hitam , seluar lutut kemudian melilitkan kain sarung hitam bercorak

Alat yang digunakan dalam Mappadendang seperti :

  1. Lesung panjangnya berukuran kurang lebih 1,5 meter dan maksimal 3 meter. Lebarnya 50 cm Bentuk
  2. lesungnya mirip perahu kecil (jolloro; Makassar) namun berbentuk persegi panjang.
  3. Enam batang alat penumbuk yang biasanya terbuat dari kayu yang keras atau pun bambu berukuran setinggi orang dan ada dua jenis alat penumbuk yang berukuran pendek, kira-kira panjangnya setengah meter.

Tata Cara Mappadendang

Biasanya Komponen utama dalam Mappadendang terdiri atas enam perempuan, 4 pria, bilik baruga, lesung, alu, dan pakaian tradisional, baju bodo. Mappadendang mulanya gadis dan pemuda masyarakat biasa. Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga disebut pakkindona. Kemudian pria yang menari dan menabur bagian ujung lesung disebut pakkambona. Bilik baruga terbuat dari bambu, serta memiliki pagar dari anyaman bambu yang disebut walasoji.

Personil yang bertugas dalam memainkan seni menumbuk lensung ini atau mappadendang dipimpin oleh dua orang, masing-masing berada di ulu atau kepala lesung guna mengatur ritme dan tempo irama dengan menggunakan alat penumbuk yang berukuran pendek tersebut di atas, biasanya yang menjadi pengatur ritme adalah mereka yang berpengalaman.

Sedangkan menumbuk di badan lesung adalah mereka perempuan atau laki-laki yang sudah mahir dengan menggunakan bambu atau kayu yang berukuran setinggi badan orang atau penumbuknya.

Seiring dengan nada yang lahir dari kepiawaian para penumbuk, biasanya dua orang laki-laki melakukan tari pakarena. Isi lesung yang ditumbuk berisi dengan gabah atau padi ketan putih/hitam (ase punu bahasa bugis) yang masih muda dan biasanya kalau musim panen tidak dijumpai lagi padi muda, maka biasanya padi tua yang diambil sebagai pengganti, akan tetapi sebelum ditumbuk padi itu terlebidahulu direbus selama 5 sampai 10 menit atau direndam air mendidih selama 30 menit kemudian disangrai dengan menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat tanpa menggunakan minyak dengan memakai api dari hasil pembakaran kayu.

Setelah ditumbuk sampai terpisah dengan kulitnya (dipeso bahasa makassar) barulah perempuan menampanya (ditapi bahasa makassar) memakai alat pattapi yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan yang berdiameter seperti tudung saji di bawah sinar rembulan dan cahaya dari sulo atau lampu penerangan orang makassar yang terbuat dari bambu/obor minyak tanah.

Kalau hasil tumbukan dari prosesi mappadendang benar-benar dianggap bersih karena sudah dipisahkan antara padi dan kulitnya, maka perempuan lainnya menyiapkan kelapa habis diparut dan gula merah yang sudah diperhalus kemudian dicampur menjadi satu bersama dengan padi yang telah ditumbuk. maka terbuatlah satu penganan atau racikan kue tradisional yang dikenal dengan nama laulung.