Perkembangbiakan Bakteri Cyanobacteria (Ganggang Biru)

Posted on

Cyanobacteria atau dalam bahasa Indonesia disebut sianobakteri merupakan filum bakteri. Mereka sering disebut alga biru-hijau tetapi beberapa mengklaim bahwa penamaan itu sedikit keliru karena sebetulnya Cyanobacteria merupakan ganggang biru. Seperti halnya dengan bakteri yang lain, sianobakteri reproduksinya juga dengan pembelahan sel.

Selain dengan pembelahan sel, bakteri Cyanobacteria juga dapat dilakukan dengan cara fragmentasi dan pembentukan spora khusus yang disebut akinet. Fragmentasi merupakan cara berkembang biak dengan jalan memutuskan salah satu bagian tubuh ganggang dan membentuk fragmen-fragmen. Fragmen tersebut kemudian akan berkembang menjadi individu baru.

Pembelahan sel terjadi pada reproduksi Cyanobacteria (ganggang biru) bersel tunggal, sedangkan fragmentasi terjadi pada ganggang biru yang berbentuk filamen. Beberapa ganggang biru dapat membentuk akinet yang berdinding tebal sehingga dalam kondisi yang kurang menguntungkan (kondisi gelap, kekeringan, sangat dingin) spora akinet dapat bertahan hidup jika kondisi lingkungan telah membaik, dinding spora tersebut akan pecah dan isinya akan berkecambah membentuk individu baru.

PELAJARI:  Apa Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan?

Perkembangbiakan Cyanobacteria (Ganggang Biru)

Reproduksi Cyanobacteria yang dikenal dengan sebutan ganggang biru atau ganggang hijau biru dapat dilakukan dengan 3 cara perkembangbiakan vegetatif / reproduksi aseksual. Sedangkan perkembangbiakan generatif / reproduksi seksual ganggang biru belum diketahui. Ketiga cara reproduksi aseksual tersebut adalah :

Pembelahan Sel

sel membelah menjadi dua bagian yang membentuk sel baru. sel-sel yang terpisah bisa tetap bergabung membentuk koloni. Misal : Gleocapsa.

Fragmentasi

Fragmentasi adalah pemutusan sebagian anggota tubuh yang dapat membentuk individu baru. Terjadi pada ganggang yang berbentuk filamen/benang. Misal : Oscillatoria.

Spora vegetatif

Spora vegetatif yang dimaksud disini adalah heterokist. Pada keadaan yang tidak menguntungkan heterokist tetap mampu bertahan karena dinding selnya tebal dan banyak mengandung bahan makanan. Setelah lingkungan kembali menguntungkan heterokist dapat membentuk filamen baru. Misal : Chamaesiphon comfervicolus.