Janji Allah SWT Kepada Nabi Yunus A.S Atas Dakwahnya

Posted on

Dalam sejarah para nabi, banyak sekali kisah yang menjadi pelajaran untuk kita umat nabi Muhammad Saw. Salah satu kisah yang pernah terjadi yang dialami oleh nabi Yunus A.s menjadi kisah yang harus kita yakini dan sebagai pembelajaran untuk menambah keimanan kita kepada Allah Swt.

Nabi Yunus A.s merupakan nabi yang ke 21 dari semua nabi yang harus kita imani. Dalam catatan sejarah nabi Yunus A.s hidup sekitar tahun 820-750 SM. Nabi Yunus A.s adalah salah seorang nabi dalam agama Samawi (Islam, Yahudi, Kristen) yang disebutkan dalam Al-Qur’an dalam Surah Yunus dan dalam Alkitab dalam Kitab Yunus. Ia ditugaskan berdakwah kepada orang Assyiria di Ninawa-Iraq.

Nabi Yunus dalam Al-Qur’an

Di dalam Al-Quran, nama Yunus as, disebutkan sebanyak 5 kali, yaitu pada Surat Al-Anbiyaa’ (Al-Anbiya’) [21] : ayat 87-88, pada Surat Ash-Shaaffaat (As-Saffat) [37] : ayat 139-148, pada Surat Yuunus (Yunus) [10] : ayat 98, pada Surat An-Nisaa’ (An-Nisa’) [4] : ayat 163, dan Surat Al-An’aam (Al-An’am) [6] : ayat 86.

Ringkasan Kisah Nabi Yunus

Ninawa (Nineveh) adalah pusat pemerintahan Kerajaan Assyria yang berada di utara Irak pada masa Nabi Yunus. Ninawa merupakan kota terbesar dan terkaya di bagian timur dunia saat itu. Namun, kelapangan rezeki dan kekayaan yang luar biasa itu justru membuat penduduknya berbuat maksiat, sesat, dan dosa-dosa besar. Selain itu, mereka juga menyembah berhala dan tidak beriman kepada Allah. Seandainya bukan karena rahmat-Nya, Allah pasti telah menghancurkan mereka. Dengan kasih sayang-Nya, Allah mengutus Nabi Yunus kepada penduduk Ninawa untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan perbuatan syirik.

Nabi Yunus memulai dakwahnya seperti dakwah para nabi dan rasul lainnya. Dia mengaku sebagai utusan Rabbnya dan menjelaskan bahwa jalan keselamatan hanyalah dengan kembali ke jalan Allah serta bertaubat kepada-Nya. Dia kemudian memaparkan berbagai dalil dan bukti tentang dakwahnya itu.

Namun, mereka mendustakan Yunus dan justru menjawab dengan jawaban orang-orang bodoh fanatik yang akal mereka tidak bias lepas dari keyakinan paganisme. Mereka berkata, “Kamu hanyalah manusia biasa seperti kami dan kami tidak akan beriman padamu juga pada ajaran yang kau bawa.”

PELAJARI:  Beriman Kepada Malaikat

Selama lebih tiga puluh tahun menyeru kebaikan, dia hanya memperoleh dari dua orang. Rubil dan Tanukh. Nyaris Yunus putus asa. Allah pun meminta Yunus untuk berdakwah lagi selama 40 hari namun tidak ada perubahan yang terjadi pada kaumnya. Meskipun nabi, tapi ia masih memiliki kefitrahan sebagai manusia, Dia pun sudah tidak tahan lagi dengan keadaan kaumnya, sehingga Nabi Yunuspun menyeru kepada kaumnya, Ia telah diberi wahyu oleh Allah SWT untuk menyampaikan berita bahwa Allah akan mengadzab mereka karena sikap mereka itu setelah berlalu tiga hari. Menimpakan azab kepada kaum Ninawe berupa azab yang pedih seperti azab yang ditimpakan Allah kepada kaum madyan. Setelah menyucapkan itu pada kaumnya Yunus pun pergi menainggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Seperti yang tersurat dalam QS. Al-Anbiya : 87.

Nabi Yunus lantas pergi meninggalkan mereka karena rasa kecewa dengan perilaku kaumnya. Atas kehendak Allah, Nabi Yunus kemudian sampai di tepi pantai dan ikut naik sebuah perahu. Di tengah perjalanan, diadakan undian untuk meringankan beban muatan kapal dengan cara membuang salah satu diantara para penumpang. Pengundian itu lalu jatuh pada Nabi Yunus. Mereka kemudian membuangnya ke laut hingga ditelan ikan paus.

“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang Rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu” (QS. Ash-Shaffat : 139-148)

PELAJARI:  Pengertian Ilmu Qiraat dan Pembagiannya

Pada saat yang bersamaan, Allah telah mengirimkan ikan besar kepadanya dan mengilhamkan kepadanya untuk menelan Yunus dengan tidak merobek dagingnya atau mematahkan tulangnya, maka ikan itu melakukannya. Ia menelan Nabi Yunus ke dalam perutnya tanpa mematahkan tulang dan merobek dagingnya, dan Yunus pun tinggal di perut ikan itu dalam beberapa waktu dan dibawa mengarungi lautan oleh ikan itu. Ketika Yunus mendengar ucapan tasbih dari kerikil di bawah laut, maka di kegelapan itu Yunus berdoa, “Laa ilaaha illa Anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzoolimiin.”. Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri. (QS. Al-Anbiya : 87)

“Seandainya ia (Yunus) bukan termasuk orang-orang yang bertasbih, pasti ia akan tetap berada didalam perut ikat sampai hari dibangkitkannya manusia (kiamat).” (QS. ash-Shaaffaat: 143-144)

Yunus pun di muntahkan Paus di tempat tandus, lalu Allah menumbuhkan pohon sejenis labu, dimana ia dapat berteduh dengannya dan makan darinya. Selanjutnya pohon itu kering, lalu Yunus menangis dengan keadaannya, dan iapun ingat dengan kondisi kaumnya jika merasakan adzab Allah tentu akan lebih sengsara dari apa yang dirasakan Yunus.

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Yunus agar kembali kepada kaumnya untuk memberitahukan mereka, bahwa Allah Ta’ala telah menerima taubat mereka dan telah ridha kepada mereka. Maka Nabi Yunus ‘alaihissalam melaksanakan perintah itu, ia pergi mendatangi kaumnya dan memberitahukan kepada mereka wahyu yang diterimanya dari Allah.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah Nabi Yunus A.s

  • Kisah Nabi Yunus merupakan kisah penghibur bagi nabi Muhammad akan aktifitasnya dakwahnya dalam menyeru kaumnya. Sehingga menjadi bahan pelajaran yang berharga dan lebih menguatkan rasulullah dalam berdakwah kepada kaumnya.
  • Ketidak sabaran dalam dakwah membuat kita tergesa-gesa (istijal) dalam sikap yang akan kita ambil dalam dakwah, dan bisa jadi sikap itu adalah sikap para pecundang yang memilih menyerah dan meninggalkan medan pertempuran kerana merasa kecewa dengan usahanya yang tak kunjung direspon.
  • Pengikut yang sedikit dan cobaan yang selalu menghalangi serta waktu yang tidak sebentar menjadi tabiat jalan dakwah yang bisa kita pelajari dari kisah ini.
  • Selama masa dakwahnya yang lama, sebelum ia meninggalkan kaumnya, Nabi Yunus hanya mendapat dua pengikut. Hasil yang minimalais dan suasana yang tidak bersahabat sejatinya tidak menyurutkan da’i dalam melakukan aktifitas dakwahnya. Karena dakwah adalah berproses, tujuannya menyampaikan. Perkara objek dakwah itu menerima atau tidak itu sudah bukan wewenang para dai karena yang mebolak-balikkan hati dan yang bisa mengalirkan hidayah hanya Allah swt.
  • Selalu meminta pertolongan kepada Allah atas segala sesuatu yang menimpa dalam aktifitas dakwah kita, karena doa salah satu cara mempercepat hasil dari usaha yag sudah kita lakukan.
  • Selalu mnjadi pribadi yang tdekat dengan Allah, karena pertolongan Allah dan janji Allah akan berlaku bagi oaring-orang yang dekat dengan-Nya.
  • Selalu berprasangka baik dengan Allah terhadap apa yang sedang Allah timpakan kepada kita