Menemukan Nilai-Nilai Kehidupan dalam Cerita Pendek

Dengan mengajukan beragam pertanyaan tentang isi suatu teks, misalnya cerpen, kita akan sampai pada penemuan nilai dari teks itu. Adapun yang dimaksud dengan nilai dalam hal ini adalah sesuatu yang penting, berguna, atau bermanfaat bagi manusia. Pertanyaan kritis tentang kelebihan dan kelemahan cerpen itu, misalnya, akan sampailah pada jawaban tentang bermanfaat atau tidaknya bagi pembaca.

Perhatikan penggalan cerpen berikut.

Pak, pohon pepaya di pekaranganku telah dirobohkan dengan tak semena-mena, tidaklah sepatutnya hal itu kulaporkan? Itu benar, tapi jangan melebih-lebihkan. Ingat, yang harus diutamakan ialah kerukunan kampung. Soal kecil yang dibesar-besarkan bisa mengakibatkan kericuhan dalam kampung. Setiap soal mesti diselesaikan dengan sebaikbaiknya. Tidak boleh main seruduk. Masih ingatkah kau pada peristiwa Dullah dan Bidin tempo hari? Hanya karena soal dua kilo beras, seorang kehilangan nyawa dan yang lain meringkuk di penjara.
(Cerpen “Gerhana”, Muhammad Ali)


Penggalan cerpen diatas menjelaskan perlunya menjaga diri, dalam artian tidak melebih-lebihkan persoalan kecil karena dapat berakibat fatal. Dalam unsur-unsur intrinsik karya sastra, pernyataan tersebut dinamakan dengan amanat. Pernyataan seperti ini bernilai atau sesuatu yang berguna, sebagai “obor” atau petunjuk jalan bagi seseorang untuk bersikap. Oleh karena itu, berkaitan dengan baik-buruknya perilaku dalam bermasyarakat, hal itulah yang dinamakan dengan nilai moral.

Nilai dari sebuah cerpen tidak hanya berkaitan dengan keindahan bahasa dan kompleksitas jalinan cerita. Nilai atau sesuatu yang berharga pada cerpen adalah pesan atau amanat. Wujudnya seperti yang dijelaskan di atas: ada yang berhubungan dengan masalah budaya, moral, agama, atau politik. Realitas pesan-pesan itu biasanya seperti menghargai tetangga, kesetiaan pada kekasih, takwa kepada Tuhan, dan lain sebagainya. Hanya kadang-kadang kita tidak mudah untuk merasakan kehadiran pesan-pesan itu. Karya-karya semacam itu perlu kita hayati benar-benar.

Untuk menemukan keberadaan suatu nilai dalam cerpen, kamu dapat mengajukan sejumlah pertanyaan, misalnya, sebagai berikut.

  1. Mengapa tokoh A mengatakan hal itu berkali-kali?
  2. Mengapa latar cerita itu di sekolah dan pada sore hari?
  3. Mengapa pengarang membuat jalan cerita seperti itu?
  4. Mengapa seorang tokoh dimatikan sementara yang lain tidak?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan membawamu pada simpulan tentang nilai tertentu yang disajikan pengarang

Tugas

1) Lakukan hal-hal berikut ini sesuai dengan instruksinya!
a. Bacalah kembali cerpen “Robohnya Surau Kami”!
b. Secara berkelompok, tunjukkanlah nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam cerpen itu!
c. Mungkinkah nilai-nilai tersebut kamu aktualisasikan pula dalam kehidupan sehari-hari?
d. Laporkanlah hasil diskusi kelompokmu itu dalam format berikut!

2. Amatilah nilai-nilai yang berlaku di dalam kehidupan masyarakatmu!
a. Nilai-nilai apa saja yang berkembang di dalamnya? Sajikanlah sebuah cerita yang menjelaskan aplikasi salah satu dari nilai-nilai itu!
b. Adakah nilai yang kamu anggap bertentangan dengan nurani? Jelaskanlah!

Contoh Jawaban

1. Laporan Diskusi
Judul Cerpen : Robohnya Surau Kami
Pengarang : AA. Navis
Sinopsis :

Dalam cerpen ini menceritakan tentang seorang kakek bernama Garin, penjaga surau (Takmir). Menjadi seorang penjaga surau dia tidak mendapatkan honor atau gaji apa pun. Dia hidup mengandalkan dari sedekah, yang hanya sekali pada hari Jumat. Pekerjaan sambilannya yaitu menjadi pengasah pisau dan gunting. Apabila yang meminta tolong perempuan biasanya dia diberi sambal. Berbeda lagi, apabila yang meminta tolong itu laki-laki, ia diberikan rokok kadang juga uang sebagai imbalannya. Tidak sedikit juga yang hanya memberikan ucapan terima kasih dan senyuman.

Suatu ketika, kakek terlihat murung, sedih, kesal dan bermuram durja. Ia duduk termenung di serambil surau dengan ditemani beberapa peralatan asahan dan pisau cukur tua berada disekitar kaki kakek. Ternyata ia baru saja bertemu dan berbicara dengan Ajo Sidi, si pembual atau ahli pembuat cerita. Cerita-ceritanya aneh, unik, yang membuat cerita dengan menganalogikan lawan bicara dengan sesuatu. Hari itu kakek yang dijadikan bualan ceritanya, yang pada intinya menjadi pemeo atau semacam cerita yang menyindir pendengar.

PELAJARI JUGA:  Mengevaluasi Teks Negosiasi

Ajo Sidi, si pembohong itu menceritakan seseorang bernama Haji Shaleh, yang dulunya di dunia selalu beribadah kepadaNya, taat menjalankan perintahNya dan selalu takwa kepada-Nya. Namun, di akhirat Haji Shaleh, malah dimasukkan ke dalam neraka, bahkan ditempatkan pada keraknya neraka. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya, dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri. Segala kehidupannya lahir batin diserahkan kepadaNya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain. Bahkan dia tak pernah membunuh seekor lalat pun. Padahal dia hidup berkaum, bersaudara namun sedikitpun tak memperdulikannya. Dia selalu bersujud, memuji dan berdoa kepadaNya.

Setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi, kakek hanya merenung dan memikirkannya Seolah ia merasakan apa yang dirasakan Haji Shaleh. Keesokan harinya, kakek mengakhiri hidupnya dengan menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Berita kematian kakek sudah tersebar ke seluruh kampung, semua warga kampung mengurus jenazah kakek. Semua warga mengantar kepergian jenazah kakek ke makam. Namun Ajo Sidi yang bisa dikatakan menjadi penyebab kematian kakek, malah tetap pergi bekerja. Dan sebelum pergi bekerja, Ajo Sidi berpesan kepada istrinya agar membelikan kain kafan untuk mengafani jenazah kakek.

Nilai-nilai:
a. Nilai sosial
Sesama manusia harus saling membantu jika orang lain berada dalam kesusahan sebab kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

b. Nilai Moral
Saling menghormati antarsesama dan jangan saling mengejek atau menghina.

c. Nilai Agama
Melakukan yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi yang dilarang oleh-Nya, seperti mencemooh, berbohong dan lain-lain.

d. Nilai Pendidikan
Tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha.

e. Nilai Budaya
Memegang teguh adat istiadat atau kebiasaan di suatu masyarakat.

Kemungkinan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari:

Nilai-nilai yang dapat diterapkan adalah nilai sosial, nilai moral, nilai pendidikan, nilai agama, dan nilai budaya. Masyarakat sebagai sumber utama yang dapat mengembangkan ragam nilai-nilai kehidupan jika setiap anggota masyarakat mampu untuk mengubah kebiasaan lama dengan kebiasaan yang baru.

2. Mengamati Nilai-Nilai Kehidupan di Masyarakat

a. Nilai-nilai yang berkembang adalah nilai moral, sosial, agama, budaya, dan pendidikan.

Mirna adalah seorang anak sopan, pintar, dan baik hati. Ia sangat dikagumi oleh banyak orang di desa ia tinggal yaitu desa Jatipamor, Majalengka. Setiap hari ia harus membantu ibunya berjualan di pasar dari sore sampai malam karena pasar tersebut mulai buka dari sore sampai larut malam. Beberapa bulan lalu, ayahnya telah meninggal karena penyakit yang dideritanya. Pagi hari, Mirna beraktivitas seperti biasa yaitu sekolah. Dengan aktivitas rutin yang harus dilakukannya, Mirna tidak sedikitpun mengeluh, apalagi meratapi takdir yang sudah terjadi. Semangat untuk terus berjuang dan bersabar merupakan kunci Mirna dalam menjalani kehidupan ini. Tujuannya ialah untuk menjadi anak yang berbakti dan membahagiakan ibunya.

b. Tidak ada. Semua nilai-nilai kehidupan baik itu agama, moral, budaya, sosial, ataupun pendidikan tujuannya ialah untuk menanamkan kebiasaan yang baik dan benar.