Mengenal Sumpah Palapa Patih Gajah Mada

Pada mulanya, Gajah Mada dikenal sebagai seorang pegawai dari Kerajaan Majapahit. Ia merupakan seorang prajurit yang kuat dan gagah berani. Ia pernah menjadi anggota pasukan Bhayangkara hingga  sebagai Kepala Pasukan Bhayangkara/ pengawal raja.

Gajah Mada Menyelamatkan Raja

Setelah Raja Wijaya wafat pada tahun 1309, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Jayanegara. Jayanegara merupakan putera dari Raden Wijaya  yang masih berusia 15 tahun. Pada masa pemerintahannya tersebut timbul banyak pemberontakan antara lain seperti Pemberontakan Rangga Lawe dari Tuban (tahun 1309), Pemberontakan Sora (tahun 1311),  Pemberontakan Nambi (tahun 1316), dan Pemberontakan Kuti (tahun 1319). Pemberontakan-pemberontakan tersebut dapat dipadamkan. Ternyata dengan kecerdikan Gajah Mada maka pemberontakan Kuti dapat dipadamkan dan Raja dapat kembali keistana. Hal tersebut membuat Gajah Mada diangkat sebagai Patih Kahuripan dan kemudian sebagai patih Kediri.

PELAJARI JUGA:  Organ-organ Tumbuhan yang Penting dalam Pembuatan Makanan

Sumpah Amukti Palapa

Ketika Jayanegara wafat, beliau tidak meninggalkan anak laki-laki sehingga putrinya yang bernama Tribuwanatunggadewi menggantikannya. Kemudian, Tribuwanatunggadewi menikah dengan Kertawardana dan melahirkan putra laki-laki, yang diberi nama Hayam Wuruk.

Pada Pemerintahan Tribuwanatunggadewi kembali terjadi pemberontakan. Pemberontakan tersebut dikenal dengan sebutan pemberontakan Sadeng pada tahun 1331. Gajah Mada berhasil menumpas pemberontakan tersebut sehingga  Gajah Mada kemudian diangkat sebagai Mahapatih Majapahit.

Gajah Mada mengucapkan sumpah dalam upacara pelantikan yang terkenal dengan sebutan Sumpah Amukti Palapa. Gajah Mada tidak akan merasakan buah palapa atau kenikmatan dunia sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kekuasaan Majapahit. Pada tahun 1343, Gajah Mada melaksanakan sumpahnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan bersatunya Bali dengan Majapahit. Selanjutnya Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Sumatera dapat dikuasai.

PELAJARI JUGA:  Pengaruh Air Sungai Terhadap Kehidupan Manusia

Mendampingi Hayam Wuruk

Tahun 1350, Tribuwanatunggadewi menyerahkan kekuasaan kepada Hayam Wuruk. Gajah Mada yang sebagai Mahapatih Majapahit tetap mendampingi Raja Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk tersebut Kerajaan Majapahit mengalami zaman keemasan. Wilayahnya begitu luas hingga Semenanjung Malaka.

Berpulang ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Pada tahun 1364 Gajah Mada meninggal dunia. Hayam Wuruk merasa terpukul karena kehilangan pendamping dalam mengurus kerajaan Majapahit. Setelah itu, Tribuwanatunggadewi meninggal pada tahun 1372. Hal tersebut membuat Hayam Wuruk makin murung. Pada akhirnya di tahun 1389, Hayam Wuruk juga meninggal. Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran.