Tahap-Tahap Sosialisasi & Contoh

Dalam pergaulan di masyarakat, seseorang harus melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat menyebabkan terjadinya tindakan seseorang karena terjadi penerapan nilai-nilai dan norma yang berbeda-beda.

Sosialisasi merupakan proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia, mulai masa kanak-kanak, remaja, dewasa sampai ia meninggal dunia.

Menurut Goege Herbert Mead, bahwa sosialisasi yang dilakukan seseorang melalui tahapan yang tidak sempurna. Contoh: kata “Bapak” yang diajarkan pada balita diucapkan “Bap”, lama-kelamaan anak bias mengucapkan kata bapak dan memakai makna kata bapak sesuai dengan kenyataan yang dialaminya. Hal tersebut dapat diklarifikasikan menjadi empat tahapan, yaitu :

Tahapan Persiapan (Preparatory Stage)

Tahapan jenis ini pernah dilalui oleh setiap warga masyarakat sejak dilahirkan. Ketika seorang bayi baru saja dilahirkan, maka ia akan melakukan persiapan terhadap dirinya dalam rangka mengenal dunia sosial yang akan ia jalani. Ketika ia beranjak dewasa, ia akan memulai sebuah aktivitas yang cenderung meniru orang-orang disekelilingnya meskipun tidak secara menyeluruh.

Contoh :

Seorang anak menyebutkan kata “puyang” yang ia maksudkan ialah kata “pulang.” Kata-kata tersebut ia tiru dari orang terdekatnya yakni orang tuanya serta keluarganya yang lain. Anak tersebut belum sepenuhnya memahami makna kata yang ia ucapkan serta pelafalan yang kurang begiru jelas, namun lambat laun ia akan memahami sesuatu yang ia tirukan tersebut dan mampu melafalkannya dengan benar.

PELAJARI JUGA:  Mengungkit Terjadinya Pemberontakan Andi Azis

Tahapan Meniru (Play Stage)

Pada tahap ini anak mulai mampu meniru secarabsempurna. Tahap meniru ini juga disebut tahap bermain. Pada tahap ini kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan orang-orang yang jumlahnya relatif banyak sudah mulai terbentuk. Pada tahap ini anak mengenal “significant other” yaitu orang-orang di sekitarnya yang dianggapmpenting bagi pertumbuhan dan pembentukan diri, misal: ayah, ibu, kakak, pengasuh, kakek, nenek, yang sering berinteraksi dengannya.

Contoh: seorang anak kecil selalu meniru apa yang dikerjakan orang di sekitarnya dan menerima apa yang sudah dilihatnya.

Tahapan Siap Bertindak (Game Stage)

Pada tahap ini peniruan yang dilakukan seseorang mulai berkurang digantikan oleh peranan yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Pada tahap ini kemampuan menempatkan dirinya pada posisi orang lain mulai meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara beregu. Pada tahap ini partner interaksinya makin banyak, hubungan pun makin kompleks. Kemantapan diri pada tahap ini jauh lebih tinggi dari tahap-tahap sebelumnya. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap mulai dipahami. Pada tahap ini mulai siap menjadi partisipan aktif dalam masyarakat. Teman sebaya sangat berpengaruh pada game stage,karena dengan teman sebaya seseorang mulai mengenal dan berinteraksi dengan dunia di luar keluarga.

PELAJARI JUGA:  Identifikasi 3 Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Bentuk Pantai

Contoh : Seorang anak yang dalam kondisi ini akan mulai sadar akan pentingnya membela sebuah keluarga yang dimilikinya. Selain itu ia juga akan mulai melakukan aktivitas bersama teman-teman sebayanya.

Tahapan Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Other)

Pada Tahapan ini seorang individu yang masih beranjak dewasa tadi telah menjadi menjadi seseorang yang benar-benar dewasa. Dalam aktivitasnya sehari-hari ia telah mampu beradaptasi serta menempatkan dirinya di tengah masyarakat dengan baik. Ia mulai mampu bertoleransi dengan masyarakat secara luas serta menyadari pentingnya setiap norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dalam waktu yang bersamaan ia telah mampu untuk saling bekerja sama dengan teman-teman sebaya, keluarga besar, maupun warga masyarakat di sekitarnya.

Contoh : Seorang pemuda yang telah melewati masa-masa remajanya, ia mulai memahami akan pentingnya bekerja sama dengan orang lain baik dengan teman-temannya maupun dengan warga masyarakat disekitarnya secara luas. Ia menempatkan dirinya di tengah-tengah masyarakat dengan sangat baik dengan mengikuti segala kegiatan yang ada di masyarakat seperti keja bakti, ronda bergilir, pengajian, dan lain sebagainya.