Menulis Teks Eksplanasi

Untuk memahami lebih dalam teks eksplanasi, diharapkan kamu mampu menyajikan informasi dan data dalam bentuk teks eksplanasi tentang suatu fenomena secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur unsur kebahasaan atai aspek lisan.

1. Pola-Pola Pengembangan Teks Eksplanasi

Teks eksplanasi dapat disusun dengan berbagai pola, yaitu dengan pola kronologis dan kausualitas. Kedua pola itu dapat divariasikan penyusunnaya. Kedua pola itu bisa saling melengkapi. Di samping itu, mungkin pula hal itu terselingi dengan pola-pola lainnya, seperti pola definisi, ilustrasi, dan umum-khusus.

Paragraf Kasualitas ( Sebab-Akibat)

Paragraf sebab akibat (kasualitas) adalah paragraf yang peryataan menjadi sebab didahulukukan kemudian diikuti akibat yang ditimbulkannya. Proses berfikir paragraf ini dapat menggunakan fakta-fakta yang memiliki pola hubungan sebab-akibat. Misalnya, jika hujan-hujanan, kita akan sakit kepala atau Rini pergi ke dokter karena ia sakit kepala.

Contoh :

Boni selalu kebut-kebutan di jalan raya. Nasehat dari orang tuanya tidak didengarkannya. Suatu ketika jalanan licin setelah hujan deras, Boni tetap memacu kendaraannya dengan cepat. Ban sepeda motornya tergelincir dan akhirnya ia terperosok ke dalam selokan.

PELAJARI JUGA:  Perbedaan Teks Laporan Hasil Observasi dan Teks Deskripsi

2. Langkah-Langkah Menulis Teks Eksplanasi

Secara umum teks eksplanasi dimulai dengan identifikasi fenomena, rangkaian peristiwa, dan diakhiri dengan ulasan/ penyimpulan.

Langkah-langkah penyusunannya sebagai berikut.

a. Menentukan Topik

Sebuah teks tidak akan pernah ada tanpa topik. Teks tersebut ditulis untuk menjelaskan topik tertentu. Dalam teks yang baik akan dibahas sebuah topik utama secara fokus. Topik tersebut merupakan landasan penulis dalam menjabarkan uraiannya.

Dalam menentukan topik perlu diperhatikan beberapa aspek. Pertama, topik harus menarik. Topik menarik dipilih berdasarkan fenomena yang sedang dibicarakan masyarakat. Salah satu contohnya di suatu baru saja terjadi fenomena hujan es. Penulisnya pun memilih topik tentang proses terjadinya hujan es.

Kedua, topik yang dipilih disesuaikan dengan bidang studi penulis. Penulis yang ahli di bidang fisika sebaiknya memilih topik tentang fenomena alam. Jika penulis belum menguasai bidang tertentu, penulis dapat memilih topik yang disukainya.

Ketiga, pilih topik yang jarang ditulis orang lain. Topik tentang proses terjadinya hujan sudah sering ditulis. Penulis dapat memilih topik lain tentang hujan. Salah satunya adalah proses terjadinya hujan es di Indonesia.

PELAJARI JUGA:  Pengertian Linto Baro Dalam Kamus Bahasa Indonesia

b. Menyusun Kerangka Teks

Kerangka teks adalah gambaran pola yang akan dikembangkan. Kerangka tersebut dibentuk mulai dari yang sederhana hingga rumit. Secara sederhana, kerangka teks hanya terdiri atas tiga pembagian yaitu identifikasi fenomena, proses kejadian, dan ulasan. Di setiap bagian tersebut diberi sub-subtopik. Secara lebih rumit, penulis membuat kerangkalebih detail. Penulis menentukan jumlah paragraf dan membuat kalimat utama setiap paragraf. Penulis juga menambahkan ilustrasi contoh-contoh yang diperlukan. Kemudian, penulis melengkapinya dengan catatan rujukan ke referensi-refensi yang pernah dibaca.

Penulis dapat menyusun kerangka dengan mengembangkan topik utama ke dalam rincian-rincian topik yang lebih spesifik. Topik itu dapat disusun dengan urutan kronologis atau kausalitas.