Penjelasan Tentang “Mudra” (Posisi Tangan pada Patung Buddha)

Bagi orang yang beragama Buddha, mengetahui tentang mudra atau posisi tangan pada patung buddha bukan lagi hal yang baru. Jika di perhatikan ternyata ada enam bentuk atau posisi tangan sang Buddha.

Karakter gerakan dan posisi tangan Sang Buddha ini mengandung makna yang dalam, selain berkaitan dengan meditasi Buddha juga mengirim pesan bagi masa-masa yang akan datang.

Enam macam mudra Patung Buddha memiliki

Mudra pertama disebut sebagai Bumisparca. Dalam pose ini tangan kanan Buddha menelungkup di atas tanah dan tangan kiri diletakkan di atas pusar dengan telapak menghadap ke atas.

Tanah dianggap sebagai saksi segala kejadian di bumi. Patung Buddha dengan posisi tangan demikian kerap dikunjungi oleh mereka yang mengejar kekuatan supranatural dan berniat mengembangkan kekuatan-kekuatan alami.

Mudra kedua disebut Wara. Posisi tangan kiri terletak di atas paha dengan telapak menghadap ke atas dan tangan kanan ditekuk sehingga telapak tangan kiri yang terbuka lebar berada di bawah pusar.

PELAJARI JUGA:  Perkembangan Seni Aksara Pada Zaman Islam

Pose ini disebut sebagai penyerahan diri total. Siapa saja yang melakukan pose ini dianggap memiliki kekuatan luar biasa namun hanya digunakan pada saat-saat darurat.

Mudra ketiga adalah pose meditasi. Kedua tangan Sang Buddha saling berpegangan di atas pusar. Patung dengan posisi meditasi ini menggambarkan kekuatan di dalam dan di luar tubuh yang sama besarnya. Posisi ini dianggap sebagai simbol kekebalan.

Pada mudra keempat, Abhaya Mudra, Sang Buddha menampilkan karakter keberanian. Tangan kiri diletakkan di atas pusar dan tangan kanan setengah ditekuk menggambarkan penolakan. Mudra keempat ini menggambarkan kekebalan, namun masih dikuasai oleh nafsu.

Para pengunjung yang berorientasi pada mudra keempat ini umumnya tertarik dengan olah raga atau latihan-latihan mental dan butuh ketetapan hati dalam menghadapi problem kehidupan

Mudra kelima disebut Witarka. Ini menandakan kecerdasan dan nalar. Posisinya mirip dengan Abhaya Mudra, kecuali tangan kanan diangkat lebih tinggi. Ini menggambarkan harapan yang tinggi terhadap kearifan hidup yang mengantarkan pada kebahagiaan. Orang yang melakukan ritual pada mudra kelima ini adalah mereka yang mengejar kedamaian dan ketenteraman hidup di dunia.

PELAJARI JUGA:  Faktor Internal Kemunduran Dinasti Bani Abbasiyah

Mudra keenam atau terakhir disebut Dharmachakra Mudra yang menggambarkan roda kehidupan Dhama. Kedua tangan dijalinkan di atas pusar dengan kedua ibu jari bertemu dan mengarah ke atas. Pose ini paling banyak ditemui di Borobudur atau di Indonesia pada umumnya, termasuk Kuntobimo.

Disebutkan, bahwa mudra keenam ini dipraktekkan oleh Sang Buddha ketika memberikan amanatnya untuk pertama kali di Taman Rusa, Benares, India. Pose ini merupakan simbol kesadaran dalam semua tindakan.

Kesadaran ini pada akhirnya dikembangkan sebagai pusat dari segala perbaikan, dari susah menjadi bahagia, dari lemah menjadi kuat, dan dari hina menjadi mulia.