Menganalisis Isi, Sistematika, dan Kebahasaan Proposal

Di bagian ini kamu akan menganalisis isi teks proposal dan menganalisis kaidah kebahasaan teks proposal.

Kegiatan 1

Menganalisis Isi Teks Proposal

Berdasarkan contoh dan definisi proposal sebelumnya, kamu dapat mengetahui pula isi dari sebuah proposal secara umum, yakni berupa usulan kegiatan. Adapun isinya secara khusus bisa bermacam-macam sesuai jenis kegiatan yang ingin diusulkan. Selain mempunyai kesamaan secara umum, proposal penelitian juga memiliki beberapa perbedaan dengan proposal kegiatan bakti sosial, perlombaan, dan kegiatan berbagai jenis lainnya.

Tugas

1. a. Perhatikanlah cuplikan proposal berikut.
b. Termasuk jenis proposal apakah teks tersebut?
c. Secara berkelompok, jelaskan isinya ke dalam 2–3 paragraf.
d. Gunakan dengan bahasamu sendiri!

2. Cermati pula cuplikan proposal berikut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini secara berdiskusi.
a. Proposal itu lazimnya diajukan oleh siapa?
b. Kepada pihak manakah proposal itu sebaiknya kita ajukan?
c. Apakah bagian-bagian proposal itu sudah lengkap?
d. Apabila kamu berperan sebagai penerimanya, adakah isinya yang masih memerlukan penjelasan?
e. Cuplikan proposal itu dapatkan dimanfaat juga untuk kegiatan di sekolahmu? Jelaskan!

A. Latar Belakang
Membaca dan menulis merupakan dua jenis keterampilan yang harus dikuasai para siswa dalam bahasa dan sastra Indonesia, di samping menyimak dan berbicara. Keduanya termasuk ke dalam ragam bahasa tulis yang besar sekali kontribusinya bagi prestasi dan masa depan para siswa. Membaca dan menulis juga merupakan identitas peradaban sebuah masyarakat dan sekaligus kunci keberhasilan dan kemajuan bangsa.

Namun, sayangnya dua keterampilan inilah yang selalu menjadi persoalan klasik dalam dunia pendidikan Indonesia. Realitas kemampuan membaca dan menulis para siswa kita memang tidak menggembirakan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh sastrawan Taufiq Ismail, melalui observasinya kepada beberapa siswa di kawasan ASEAN, dia mengatakan bahwa anak-anak Indonesia rabun membaca dan pincak menulis atau bahkan dikatakan sebagai bangsa yang malah sudah buta membaca dan lumpuh menulis.

Bukti lain turut menguatkan temuan tersebut adalah hasil penelitian International Association for the Evaluation of Educational Achievment (IAEA), melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Rata-rata skor membaca untuk SD adalah sebagai berikut: (1) Hongkong 755,5, (2) Singapura 74,0, (3) Thailand 65,1, (4) Filipina 52,6, dan (5) Indonesia 51,7. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30% materi bacaan. Mereka menemukan kesulitan dalam membaca soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Kesulitan ini terjadi karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal-soal pilihan ganda di samping proses pembelajaran yang tidak mendukung terhadap kemampuan penalaran dan praktik.

PELAJARI JUGA:  Mencermati Penggunaan Kata/Kalimat pada Fabel

Kurikulum baru yang tidak beberapa lama lagi diberlakukan, merupakan momentum terbaik dalam memperbaiki kondisi yang tidak menggembirakan itu. Apalagi dengan pendekatan yang digunakan kurikulum ini yang sangat kondusif bagi dilakukannya upaya-upaya tersebut. Kurikulum baru tersebut memberdayakan peran guru dalam pengembangannya, terutama dalam pemilihan materi dan penggunaan metode yang sesuai dengan kompetensi para siswanya. Dengan demikian, terangkatnya prestasi dan keterampilan membaca dan menulis siswa, kembali kepada peran para pengajar dalam pengajarannya. Untuk itu, sebuah upaya pembekalan terhadap para pengajar tentang pengembangan kurikulum dan materi pengajaran membaca dan menulis sangat mendesak untuk dilakukan.

B. Tujuan Pelatihan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum pelatihan ini mencakup dua hal: (1) meningkatkan pengetahuan, penguasaan, dan keterampilan para pengajar terhadap substansi materi membaca dan menulis dan (2) meningkatkan profesionalisme para pengajar dalam mengajarkannya sesuai dengan kompetensi para siswa sesuai dengan indikator-indikator pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

2. Tujuan Khusus
Secara khusus, tujuan pelatihan ini adalah sebagai berikut.
a. Meningkatkan daya baca para pengajar dalam beragam keterampilan membaca.
b. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pengajar dalam mengembangkan perencanaan dan implementasi pengajaran membaca di sekolah.
c. Meningkatkan daya tulis para pengajar dalam beragam keterampilan menulis.
d. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengembangkan perencanaan dan implementasi pengajaran menulis di sekolah.

C. Materi Pelatihan
Secara garis besar, materi pokok pelatihan ini terdiri atas dua macam: (1) keterampilan membaca beserta pembelajarannya dan (2) keterampilan menulis beserta pembelajarannya.

Kedua hal tersebut dirinci berdasarkan kompetensi dasar sebagaimana yang ada dalam materi pelatihan sebagai berikut.
1. Membaca cepat dan pembelajarannya.
2. Membaca nyaring dan pembelajarannya.
3. Membaca dalam hati dan pembelajarannya.
4. Membaca memindai dan pembelajarannya.
5. Membaca karya sastra dan pembelajarannya.
6. Menulis paragraf deskripsi dan pembelajarannya.
7. Menyunting dan pembelajarannya.
8. Menulis laporan dan pembelajarannya.
9. Menulis surat dan pembelajarannya.
10. Menulis iklan dan pembelajarannya.
11. Menulis rangkuman/ringkasan dan pembelajarannya.
12. Menulis ulasan dan pembelajarannya
13. Penulis teks pidato dan pembelajarannya.

D. Peserta
Peserta pelatihan ini adalah para pengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTs se-Kabupaten Pati.

E. Pendekatan, Metode, dan Skenario Pelatihan
1. Pendekatan
Pelatihan ini menggunakan pendekatan partisipatori andragogi atau pelatihan partisipatif bagi orang dewasa, dengan ciri-ciri sebagai berikut.

a. Selalu menghargai, memperhatikan pengetahuan, dan pengalaman yang telah dimiliki peserta.
b. Memusatkan perhatian pada penemuan dan pemecahan masalah dan bukannya pada penguasaan materi.
c. Mengutamakan kesikutsertaan peserta secara aktif dan merata dalam seluruh proses pelatihan.
d. Pelatih tidak bertindak sebagai guru, tetapi sebagai fasilitator yang memfasilitasi dan turut melibatkan diri dalam proses pembelajaran.
e. Persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pelatihan dikerjakan bersama-sama antara pelatih, panitia, dengan peserta.
f. Proses pembelajaran lebih mengutamakan peningkatan pemahaman, penghayatan, pemecahan masalah, dan pengalaman dari pengalihan pengetahuan.

PELAJARI JUGA:  Unsur-Unsur Buku Harian

2. Metode Pelatihan
Pendekatan yang partisipatif, menuntut metode pembelajaran yang partisipatif pula. Metode-metode yang dimaksudkan berupa:
a. dengar pendapat,
b. ceramah dan tanya jawab,
c. silang baca dan diskusi kelompok,
d. peragaan,
e. kerja perorangan,
f. kerja kelompok, dan
g. praktikum.

Dalam setiap penyajian, digunakan lebih dari satu metode untuk mempertinggi daya serap peserta dan menghindari kejenuhan.

3. Skenario Pelatihan
Pelatihan ini dilakukan secara partisipatif. Dalam pelaksanaannya, diselenggarakan melalui pemberian kesempatan yang seluas-luasnya untuk berpartisipasi dalam setiap proses pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan peserta adalah sebagai berikut.

a. Analisis materi membaca dan menulis dalam kurikulum.
b. Berlatih membaca dan menulis.
c. Berlatih merancang rencana pembelajaran membaca dan menulis.
d. Melakukan praktik pembelajaran membaca dan menulis.
e. Mempresentasikan pengalaman hasil pelatihan peningkatan kemampuan membaca dan menulis.

F. Sarana dan Media Pelatihan
Sarana-sarana yang digunakan dalam pelatihan ini meliputi halhal berikut.

1. Bahan bacaan, seperti kurikulum, buku sastra, karya ilmiah, koran/majalah, buku teks, dan bahan-bahan bacaan lainnya yang relevan.

2. Instrumen-instrumen, seperti:
a. format-format penilaian,
b. lembar isian biodata peserta, dan
c. jadwal pelatihan.

3. ATK peserta, fasilitator, dan kesekretariatan.
4. LCD
5. Lembar transparansi
6. White board/papan tulis
7. Kertas dinding
8. Spidol/kapur tulis.

G. Waktu dan Tempat Pelatihan
1. Waktu Pelatihan
Pelatihan ini dilaksanakan selama enam hari efektif. Setiap hari terdiri atas 10 jam pertemuan dengan perincian 6 jam pelatihan di dalam kelas (tatap muka) dan 4 jam pertemuan studi mandiri terstruktur.

2. Tempat Pelatihan
Pelatihan dilaksanakan di Dinas Pendidikan Kabupaten Pati.

Contoh Jawaban

  1. Pada jawaban ini, peserta didik mencermati cuplikan proposal yang ada pada contoh dengan mengidentifikasi jenis proposal. Kemudian, secara berkelompok menjelaskan isinya ke dalam 2–3 paragraf dengan menggunakan bahasa sendiri.
  2. Setelah itu, cermati pula proposal tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan (diajukan kepada siapa, bagian-bagian proposal, isi proposal, dst).