Inilah Agen-Agen Sosialisasi

Menurut Fuller dan Jacobs terdapat empat agen sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sekolah. Namun ada pula sumber yang menyebutkan bahwa terdapat lima agen sosialisasi, yaitu keluarga, teman bermain, media massa, sekolah, dan ingkungan kerja.

Keluarga

Keluarga merupakan kelompok sosial yang terdiri atas dua orang atau lebih yang mempunyai ikatan darah, perkawinan, atau adopsi. Keluarga di mana individu dilahirkan dan mengalami proses sosialisasi yang terpenting disebut keluarga orientasi, sedangkan keluarga yang dibentuk melalui adanya perkawinan dan anak-anak sebagai hasil dari perkawinan itu disebut keluarga prokreasi.

Dalam perkembangannya, keluarga dibedakan menjadi dua, yaitu keluarga batih (nuclear family) dan keluarga luas (extended familiy). Nuclear family merupakan agen sosialisasi yang utama yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Dari sinilah seorang anak mendapatkan perhatian dan kasih sayang baik secara lahir maupun batin serta anak mulai mendapatkan pelajaran tentang nilai, norma, dan sikap yang kelak dapat ia gunakan dalam kehidupan sehari-harinya. Sedangkan dalam extended family tidak hanya terdapat ayah, ibu, dan anak-anaknya melainkan juga terdapat nenek, kakek, paman, bibi, dan saudara lainnya dalam keluarga. Mereka semua memiliki peran dan tanggungjawab dalam proses sosialisasi terhadap anggota keluarganya serta berperan dalam mewariskan pengetahuan, nilai, dan norma yang berkembang dalam masyarakat.

Sekolah

Sekolah merupakan lembaga penting dalam proses sosialisasi. Sekolah dalam arti yang luas mencakup kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi. Secara perlahan sekolah menjadi agen pengganti terhadap apa yang telah dilakukan oleh keluarga. Sehingga tidak mengherankan jika anak lebih percaya terhadap apa yang diucapkan oleh guru daripada apa yang diucapkan oleh orang tuanya.

PELAJARI JUGA:  Arti Penting Kelompok Primer

Di sekolah, anak diajarkan untuk belajar mandiri dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya disertai tanggungjawab terhadap tugas tersebut. Selain itu, di sekolah anak juga diajarkan tentang nilai prestasi, di mana posisi seorang peserta didik di sekolah ditentukan oleh prestasi yang dicapainya. Selain kedua hal tersebut di atas, yang disosialisasikan sekolah kepada peserta didik adalah universalisme, yaitu perlakuan yang sama pada setiap orang. Saat peserta didik berada di sekolah, mereka diperlakukan sama antara satu sama lainnya tanpa memandang perbedaan latar belakang maupun status sosialnya.

Kelompok Teman Sebaya

Menurut Horton dan Hunt (Pengantar Sosiologi Pendidikan, 2011:74), kelompok teman sebaya merupakan suatu kelompok dari orang-orang yangs seusia dan memiliki status yang sama, dengan siapa seseorang umumnya berhubungan atau bergaul. Seiring dengan perkembangan waktu selain dari keluarga dan sekolah, kelompok teman sebaya menjadi kelompok rujukan dalam pengembangan sikap dan perilaku anak. Dalam kelompok ini anak akan menemukan nilai dan norma yang berbeda-beda baik yang bersifat positif maupun negatif misalnya cara berpakaian, cara berbicara, dan sebagainya.

Sosialisasi melalui kelompok teman sebaya bersifat informal dan langsung. Henslin (Pengantar Sosialisasi Pendidikan, 2007:79) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya memiliki daya paksa terhadap orang yang masuk ke dalamnya. Seseorang yang tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain atau teman sebayanya maka ia dianggap sebagai “orang luar”, “bukan anggota”, dan sebagainya. Oleh karena itu, bagi seorang anak di bawah dan di atas usia sepuluh tahun yang sedang belajar, merasakan betapa besar pengaruh kelompok teman sebaya bagi dirinya.

PELAJARI JUGA:  Pengembangan Sosiologi Dalam Masyarakat

Lingkungan Kerja

Setelah individu melewati masa kanak-kanak dan masa remaja, individu akan memasuki dunia baru yaitu dalam lingkungan kerja. Individu yang memasuki dunia kerja pada umumnya telah memasuki masa hampir dewasa bahkan dewasa, oleh karena itu sistem nilai dan norma lebih jelas dan tegas.

Media Massa

Media massa semakin menguat perannya sebagai agen sosialisasi karena media massa banyak memberikan informasi yang dapat mempengaruhi cara pandang, pikir, tindak, dan sikap seseorang. Media massa dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

  1. Media massa cetak, seperti majalah, Koran, tabloid, dan lain-lain.
  2. Media massa eletronik, seperti televisi, radio, internet, dan lainnya.

Media massa baik cetak maupun elektronik seperti di atas dapat memberikan pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat dalam menambah wawasannya.