Menciptakan Kembali Teks Anekdot dengan Memerhatikan Struktur dan Kebahasaan

Posted on

Setelah kamu memahami batasan anekdot, isi, struktur dan ciri kebahasaannya, pelajaran selanjutnya adalah belajar menulis anekdot.

Kegiatan 1
Menceritakan Kembali Isi Anekdot dengan Pola Penyajian yang Berbeda

Sebelum menulis anekdot, terlebih dulu belajarlah menuliskan kembali teks anekdot yang telah kamu baca. Cara penulisan anekdot harus dengan pola penyajian yang berbeda dan gaya penceritaan yang berbeda. Dalam penulisan ulangnya pun harus sesuai dengan kebahasaan dan strukturnya.

Berikut ini adalah teks anekdot Seorang Dosen yang juga Pejabat dengan pola penyajian naratif yang diubah dari bentuk dialog.

Dosen yang juga Menjadi Pejabat

Di kantin sebuah universitas, Udin dan Tono dua orang mahasiswa sedang berbincang-bincang.

“Saya heran dosen ilmu politik, kalau mengajar selalu duduk, tidak pernah mau berdiri,” kata Tono kepada Udin. Udin ogah-ogahan menjawab pertanyaan Tono. Udin beranggapan bahwa masalah yang dibicarakan Tono itu tidak penting.

Namun, Tono tetap meminta agar Udin mau menerka teka-tekinya.
“Barangkali saja, beliau capek atau kakinya tidak kuat berdiri,” jawab Udin merasa jengah. Ternyata jawaban Udin masih juga salah. Menurut Tono, dosen yang juga pejabat itu tidak bersedia berdiri sebab takut kursinya diambil orang lain.”

PELAJARI:  Meringkas Teks Eksemplum Kisah Saudagar Kaya

Mendengar pernyataan Tono, Udin menanyakan apa hubungan antara menjadi dosen.
“Ya, kalau dia berdiri, takut kursinya diduduki orang lain,” ungkap Tono.
Udin : “???”

Tugas
Untuk dapat lebih memahami bagaimana penggunaan kalimat langsung dalam anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog dan dalam bentuk narasi, lakukan kegiatan berikut ini.

a) Ubahlah penyajian anekdot Aksi maling Tertangkap CCTV dari bentuk dialog ke dalam bentuk narasi seperti penyajian anekdot Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

b) Ubahlah penyajian anekdot Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Dari bentuk narasi ke bentuk dialog seperti penyajian anekdot Aksi maling Tertangkap CCTV.

a) Aksi maling Tertangkap CCTV

Pada suatu hari seorang warga datang ke kantor polisi. Dia datang dengan tergesa-gesa sebab mobilnya baru saja dicuri oleh seseorang. Setelah mengisi daftar tamu dan menunggu beberapa saat, orang tersebut akhirnya dipersilahkan masuk.
”Selamat pagi pak,” kata orang tersebut.
”Selamat pagi,” jawab seorang polisi yang berada di belakang komputer.

PELAJARI:  Pengertian, Perbedaan Puisi Lama dan Puisi Bar

”Ada yang dapat kami bantu, pak.”
”Iya, pak. Tentu.”
”Perkara apa ya?”
”Pencurian pak… Jadi, saya ini baru saja kehilangan, pak…”
”Kehilangan apa?” sela penyidik dengan suara yang agak tinggi.
Mendengar suara penyidik, orang itu menjadi agak panik.
”Mobil, pak… Mobil saya telah dicuri orang.”
”Kapan kejadiannya?”
”Semalam pak.. Tapi saya beruntung pak…”
”Beruntung?” polisi itu melongo dan memelototi orang di depannya. Hal tersebut membuat si pelapor menjadi salah tingkah. Dia menjadi semakin panik.
”Anda gila ya?” Penyidik itu menambahi. ”Mana ada orang kehilangan mobil tapi merasa beruntung?”
”Ada, pak..”
”Iya, Anda… Atau jangan-jangan mobil Anda sudah jatuh tempo. Belum bayar angsuran..”
”Bukan pak, bukan begitu maksud saya..”
”Trus?”
”Saya beruntung sebab saya telah merekamnya pak.. Jadi, di rumah saya ada CCTV-nya. Dan pencurian itu terakam dengan jelas,” sembari mengeluarkan sekeping VCD. ”Ini pak buktinya. Dalam video itu saya dapat melihat dengan jelas pelakunya. Malingnya.”
”Apakah Anda sudah meminta izin?”
”Izin apa pak?”
”Untuk membuat video tersebut.”
”Minta izinnya pada siapa pak?”
”Malingnnya dong.”
Kali ini pelapor itu kaget setengah mati. Belum sempat dia sadar dari keherannya, polisi itu kembali berbicara.
”Anda tahu gak? Perbuatan Anda itu ilegal. Anda saya tangkap.
Warga itu mendadak pikun. Dia melihat sekitar. Semuanya gelap.(*)

PELAJARI:  Menemukan Ajakan dalam Teks Persuasif

b) Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

Abstraksi : Seorang Jaksa Penuntut Umum menyerang saksi pada puncak pengadilan korupsi politik

Jaksa Penuntut Umum : “Apakah benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?”
Saksi : (menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan.)

Jaksa Penuntut Umum : “Bukankah benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?”
Saksi : (masih tidak menanggapi.)

Hakim : “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”

Saksi : “Oh, maaf. Saya pikir dia tadi berbicara dengan Anda.”